Arsip untuk Oktober, 2013

Ekspektasi Planet

Belum ada yang memastikan secara pasti bahwa kapan dunia ini mulai terbentuk. Namun yang jelas, pengetahuan menawarkan, bahwa karena keterampilan berbahasa, Adam, mendapatkan kedudukan yang tertinggi, diantara makhluk-makhluk lainnya.  Sejak bangku menengah atas, berbagai teori telah diperkenalkan,  bahwa dunia adalah bumi yang terbentuk dari gumpalan udara melalui proses yang cukup lama. Bumi, sebagai bagian dari keluarga planet, diyakini kemudian sebagai tempat yang nyaman untuk proses dan terbentuknya sebuah sistem kehidupan. Beberapa literatur lainnya menyebutkan bahwa bumi merupakan hasil kreasi Tuhan melalui beberapa tahapan hingga terbentuklah hamparan dan kehidupan bumi yang luar biasa. Untuk mendalami lebih jauh maha hebatnya kreator bumi ini, lebih jauh sebagian peneliti meneliti bahwa Mars adalah planet yang hampir menyerupai bumi. Namun hingga kini, penelitian tersebut belum sampai pada kesimpulan bahwa Mars adalah planet alternatif untuk dijadikan sebagai tempat terbentuknya sistem kehidupan.

Berbeda dengan Pluto, keluarga planet yang jaraknya terjauh seandainya diukur dari bumi, karakteristiknya bukan hanya saja sebagai penguat akan keberadaan planet lainnya yang memiliki lingkaran yang sangat nyaman dilihat, namun lebih jauh Pluto adalah keluarga planet yang tidak kalah menariknya untuk dibahas setelah Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.  Selain berkarakteristik jauh, Pluto seringkali dijadikan sebuah wacana semata untuk sekadar mengalihkan pembahasan saja bahwa perspektif sistem keluarga planet jauh lebih penting untuk dikedepankan. Sejauh ini hal-hal tersebut seringkali dianggap wajar. Selain karena masing-masing planet tersebut memiliki karakteristiknya sendiri-sendiri dan seakan-akan tidak ada hubungannya dengan planet lainnya, hal-hal yang pragmatis mendesak seperti munculnya angin beliung sebagai fenomena yang datang secara misterius, seperti halnya hujan yang memburu tak terkira, sudah menjadi pembahasan rutinitas yang lalu-lalang menghampiri lalu muncul dan lenyap kembali.

Akan tetapi harmoni semesta yang hampir tanpa batas seperti halnya imajinasi yang melingkupi dan menghidupkan lalu-lalang sistem keluarga planet, bukan saja ‘menyapa’ dan ‘menyadarkan’ interaksi sistem planet, namun lebih jauh menawarkan sebuah alternatif  visual dan pengetahuan yang bersifat terbatas dan dapat diukur menurut nalar yang juga terbatas. Hal-hal yang tak terduga terkadang menjadi sebuah bentuk penyadaran bahwa sebuah sistem apapun, besar-kecil, panjang-pendek, luas-sempit, memang harus terus dirawat dan dipelihara sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah sistem yang saling menguatkan dan bermuara pada sebuah komposisi dan harmoni yang nyaman dan anggun. [AF]

    

Iklan

Tinggalkan komentar

Dunia dalam Cinema

Zathura, sebenarnya bukan hanya sebuah film keluarga yang bersifat imajinatif belaka, namun selebihnya adalah sebuah cinema tentang dinamika kehidupan keluarga yang penuh dengan nilai-nilai kebersamaan. Kehidupan single parent yang nyaris memporak-porandakan harmonisasi sebuah keluarga sebenarnya, dengan aneka kesibukannya masing-masing, justru dengan ditemukannya sebuah ‘games’ kuno oleh seorang adik saat dikejar-kejar oleh seorang kakaknya, bukan hanya mempersatukan kembali dan menjadi lebih harmonis kehidupan komunikasi dengan seluruh keluarganya, bahkan hal-hal aneh dan luar biasa yang hanya dialami oleh anggota keluarganya itu, sebuah kehidupan dan kerukunan sebuah keluarga semakin lebih difahami dan semakin bermakna.  

Zathura sebenarnya hampir mirip dengan film Jumanzi. Hanya saja latar film jumanzi ini bukan berlatar di kehidupan luar angkasa, namun film yang dimainkan oleh aktor senior Hollywood ini lebih menitik beratkan pada hadirnya kehidupan rimba liar, romantika sebuah kesuksesan sebuah korporasi, back to the past, dan perpaduan antara kehidupan in the past dan continous kini dengan tentunya membawa sebuah keanehan dan persepsi ‘agak miring’ untuk menunjukkan sebuah keluarbiasaan yang tidak mungkin menurut sebuah logika pada umumnya. Seperti ketika sebuah games dimainkan, tiba-tiba sekumpulan binatang-binatang purbakala seperti badak, gajah, binatang menyerupai dinosaurus saling bermunculan untuk tak sekadar mengagetkan dan ‘menyapa’ seorang ayah, seorang anak, dan seorang remaja dewasa, namun justru lebih mempererat persahabatan diantara mereka. Meskipun kedua film ini agak sedikit menegangkan, namun hal-hal lucu dan nampak polos yang diperankan oleh beberapa aktor tersebut semakin lebih melupakan sebuah perjalanan waktu.

Cinema Indonesia, sebenarnya sejak dulu tak kalah populernya. Bahkan aktris seperti Christine hakim, bukan hanya sukses di dalam negeri, pun di luar negeri pun pernah dilakoninya. Lebih jauh beberapa aktor yang sudah merakyat seperti aktor senior Ibing, Benyamin S., Didi petet, S. Bagyo, hingga Suzanna, adalah beberapa aktor senior yang bukan hanya mampu memerankan berbagai peran, namun tidak sedikit telah mewarnai dan mengisi kesemestaan film layar lebar Indonesia yang sempat mensejajarkan  industri film mancanegara.  [AF]

 

Tinggalkan komentar

Welcome to Cyber Harmony

 

MACAN meninggalkan belang, gajah meninggalkan gading, manusia meninggalkan amalan.  Berlomba-lomba menanam kebaikan, berlomba-lomba menebarkan kebaikan, berlomba-lomba merawat kebaikan adalah amalan yang sering diketemukan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti halnya menjadi tanaman yang kokoh lebat, kuat, dan berbuah, usaha yang diiringi dengan kesabaran adalah usaha yang tak kalah pentingnya seperti menempatkan sesuatu pada tempatnya. Pion-pion selalu berada di depan berjejer rapih, kembaran benteng selalu bergerak lurus dan kokoh berada di pojok-pojok, dua pasang kuda gagah dan anggun dengan langkah L-nya berdiri di samping benteng yang selalu bergerak lurus, sementara gajah yang selalu loyal berjalan menyamping lurus, berdiri di sebelah menteri sebagai sebuah kesatuan antara gerak pion, benteng, gajah dan seorang raja. Dan raja sendiri adalah seorang pion yang lebih besar bentuknya dan sengaja berada di barisan belakang untuk memperhatikan bangunan, konfigurasi, dan tradisi kultural dan struktural seluruh sistemnya dalam menterjemahkan berbagai fenomena sosial dan fenomena alam yang terus bergerak.

Atau seperti halnya permainan bola, sebuah kekompakan, formasi, skill keahlian, kecerdasan managerial, kebijaksanaan wasit beserta krunya hingga sorak-sorai riuh rendahnya motivator penonton akan sangat menentukan berapa banyak bola yang selalu bundar itu akan mengisi gawang-gawang yang tegak berdiri kokoh yang hanya dijaga seorang kiper saja. Bagi korporasi atau sebuah perusahaan, ini diterjemahkan kemudian sebagai sebuah target yang akan dicapai secara kontinyu dan terus berkelanjutan. Besar kecilnya sebuah gol, laba, atau keinginan yang akan dicapai, adalah perpaduan antara kecerdikan seorang manager dalam melihat peluang, kecerdasan karyawan-karyawannya dalam menterjemahkan job descriptionnya, dan kekompakan yang baik yang terjalin antara pihak internal maupun pihak eksternal secara berkala. Seperti halnya sebuah bangunan orkesta maha besar, semua akan tampak anggun, fairplay dan harmoni seandainya tiap-tiap peran dimainkan secara konsisten dengan komitmen dan kesungguhan yang tinggi.

Atau seperti halnya sebuah perjalanan waktu, waktu akan terus berputar dan melewati angka-angka, karena sistem komponen waktu, battery, dan penempatannya sangat baik dan terjaga keberadaannya. Mereka berputar bukan hanya sekadar berputar, memberi dan menerima image, namun untuk lebih meyakinkan bahwa angka-angka tersebut bukan hanya tetap dalam posisinya masing-masing. Selebihnya tentu saja untuk meyakinkan bahwa bentuk, isi, dan auranya bukan hanya saja enak dilihat dan enak didengar semata, namun lebih jauh lagi semakin lebih menyadarkan bahwa keberadaannya tak jauh berbeda seperti seekor lebah. Lebah selalu hidup berkelompok, energinya adalah yang baik-baik seperti saripati bunga, dan hasil produksinya adalah sebuah madu yang sangat bergizi dan banyak gunanya bagi siapapun, baik untuk anak-anak, remaja maupun untuk orang tua. [AF]      

 

Tinggalkan komentar

Tiga Tokoh Mendunia

Tantangan terbesar bagi seorang production hingga seorang sastrawan, mereproduksi tema hingga isi, adalah pekerjaan yang tidak mudah. Menurut Diponegoro, gagasan ibarat sebuah ilham yang datang dengan sendirinya dan diam-diam lalu pergi begitu saja. Untuk memaknai hingga membuat ilham dan gagasan itu menjadi sesuatu yang berharga, merekam dalam sebuah memori hingga menjadi sebuah bangunan karya tulis merupakan sesuatu yang bisa dilakukan oleh banyak orang. Namun untuk menjadi sebuah ‘menu makanan’ yang bergizi, menarik dan bernuansa klasik unik dan tahan lama, memang bukan pekerjaan yang enteng.

Saddam, meskipun lebih memilih sebagai seorang politikus, dalam sebuah penjara dia berpesan. Untuk memilih seorang partner, sebenarnya jangan terlalu susah-susah. Cukuplah anggun, dan mahir  dalam meramu sebuah makanan.  Bill Clinton, menurut  paradigma sekilas, menurut kacamata awam, kalau boleh berasumsi sebenarnya mantan presiden ini bukan sedang mengajak orang untuk janganlah mencoba untuk berkorupsi dalam berpikir, atau sekadar untuk meminimalisasi sebuah permasalahan dunia dengan sebuah pernyataannya bahwa There are no tomorrow.  Soekarno, lebih jauh berpendapat bahwa  sebenarnya sebuah internasionalism paradigm harus sejajar dan beriringan dengan nasionalism paradigm. Di luar itu semua, gagasan-gagasan besar terkadang bermula dari hal-hal terkecil namun berani untuk mengapresiasi kembali hal-hal  terkecil tersebut dengan cara dan suasana yang unik.

Pada akhirnya, tidak mungkin Tuhan sedang bermain dadu, sebuah ungkapan kesemestaan seorang fisikawan Einstein, sudah cukup sebagai renungan dalam melihat betapa hebatnya Pencipta Alam ini mengatur alam semesta beserta isinya ini dengan hukum-hukum alamnya yang sangat tertib. Alam begitu intensif dan konsisten dengan seluruh perilakunya. Matahari terbit dan terbenam di sebelah timur dan barat,  awan beriring-iringan dan menurunkan hujan pada waktunya, dan malam berganti siang sebagai pertanda peralihan aktifitas. [AF]

Tinggalkan komentar

Corporation Building Character

Jepang dulu hingga kini pernah dicap sebagai negara yang kuat dalam individual skill namun agak lemah dalam hal konfigurasi system atau kekuatan sebuah organisasi. Produk-produk yang berlabelkan negara matahari terbit ini adalah karya tangan anak pribumi sendiri hingga ratusan bahkan ribuan label produk jepang sudah tidak asing lagi dikonsumsi hingga Indonesia sendiri. Selain produk-produk teknologi, dulu pernah booming di tataran teknologi cinema seperti film Oshin misalkan, sebuah rekaman riwayat perjalanan hidup yang kental dengan perjuangan mempertahankan dan menjalani gaya hidup dari kehidupan bawah hingga papan atas namun penuh dengan romantika dan kebersahajaan yang luar biasa.

Tidak jauh berbeda dengan Negara sekelas China, negara ini pun pernah mengalami hal yang serupa. Produk-produk teknologi China hingga kini sangat menggurita di setiap lini pasar teknologi informasi. Seandainya berkunjung ke counter-counter handphone, cobalah sekali-sekali membaca made in-made in yang tertulis di sebuah alat teknologi maupun lembaran kertas kecil, produk-produk China begitu akrab dan mudah sekali untuk dibaca. Selain merambah ke produk farmasi, China sanggat unggul dalam membangun kebudayaan dan sebuah tradisi lokal. Tembok besar China misalkan, adalah salah satu hasil karya kesungguhan seluruh rakyat China yang konon dulu dijadikan sebuah benteng pertahanan dalam hal pertahanan militerisme. Selain dijadikan sebagai salah satu keajaiban dunia, tembok China mempunyai nilai sejarah tersendiri yang menyentuh, bukan hanya berskala nasional namun menjadi sebuah museum dunia yang sangat dibanggakan sebagai bagian dari warga dunia. Tokoh yang sangat akrab dengan kebudayaan Arab selanjutnya terutama dalam membangun kerjasama dalam hal perdagangan adalah kehebatan Pangeran Cheng-Ho dalam berdiplomasi. Maka tak aneh, dalam literature Arab, dulu  ada ungkapan, belajarlah ilmu pengetahuan meskipun hingga negeri China.

Afrika, meskipun negeri ini nampak mungil, jangan salah sumber daya manusianya sungguh sangat luar biasa. Siapa yang tidak kenal Koefi Annan, seorang Sekretaris Jenderal PBB pertama kulit hitam, yang cukup cemerlang dan banyak mengeluarkan kebijakan untuk perdamaian dunia meskipun memang tak sepenuhnya negara-negara lain tidak sedikit yang bersebrangan atas keputusan-keputusannya yang cukup kontroversial. Namun sebaliknya berbeda dengan Negara semisal paman Sam AS, negara ini dulu pernah dicap sebagai Negara yang kuat dalam konfigurasi system namun agak lemah dalam individual skill. Selain China, AS, termasuk negara yang memiliki hak veto, yang mana keputusan sebelumnya bisa berubah begitu saja lalu menjadi sebuah keputusan lain, hanya karena kekuatan kebijakan veto dari beberapa Negara kuat lainnya. Di sisi lainnya ada sebuah asumsi bahwa sebuah korporasi atau organisasi menguat karena adanya kekuatan Undang-undang, besarnya partisipasi dan tingginya intelegensi rakyat,  kuatnya pengawasan dari berbagai tataran yang diberi tanggung jawab, dan harmonisnya antara pemegang kekuasaan dan mereka yang dipimpin. Satu hal penting lainnya yang selalu dijadikan bahan diskusi adalah pola komunikasi yang semakin cerdas dan semakin difahami oleh berbagai tingkatan dan strata sosial. [af]

Tinggalkan komentar

Tak Sekedar Image

Sejak diketemukannya bahan kertas di negeri timur sana, aktivitas dan apresiasi orang untuk tulis-menulis pun semakin berkembang. Meskipun sebelumnya orang lebih gemar menulis di bebatuan hingga berbekas, ternyata sejak diketemukannya bahan kertas tersebut, aktifitas dan apresiasi orang untuk menuangkan apapun yang ada di benak hasrat dan otaknya, malah semakin meningkat dan semakin menggelora. Aktivitas menulis, selain sebagai hiburan semata, ternyata mampu meningkatkan kualitas dan ‘image’ yang semakin jauh lebih popular, untuk tidak hendak mengatakan bahwa aktifitas lisan pun tidak jauh lebih bernilai dan berpengaruh besar dalam membentuk dan mensosialisasikan berbagai idea atau gagasan up to date. Bahkan ada sebuah rumor dulu, seandainya seorang politikus kembali lagi ke rakyat biasa, menulis adalah sebuah aktifitas yang cukup menyenangkan.

Tahun 1990-an sempat beredar image bahwa kemajuan dan tingginya daya intelektual suatu bangsa dapat dilihat dari berapa besarnya bahan pustaka termasuk media kabar yang mampu diproduksi dan dibaca oleh warganya. Efeknya, dulu, lomba karya tulis pun terus memusim. Lomba cerdas cermat menjadi sebuah agenda rutinitas. Who want to be a millionare, mencapai rating bagus, namun hanya sempat singgah dan bertahan beberapa tahun saja. Dan kini trend jejaring sosial, sebuah karya cemerlang seorang mahasiswa jenius namun belum sempat menamatkan kuliahnya itu, bahkan hampir melampaui trilyuner orang terkaya seperti Bill Gates yang sudah tahunan aral melintang di dunianya Microsoft Windows. Selain appreciate yang tinggi terhadap para kreator-kreator tersebut, satu hal yang berpengaruh, bahwa sesuatu yang menyenangkan dan terus fokus terhadap sebuah ‘hobi’, ternyata meskipun belum ada penelitian yang mengabarkan secara menyeluruh, kebanyakan orang sah-sah saja dan hampir menyimpulkan bahwa mereka adalah sebuah kekuatan yang luar biasa.

Trend terakhir ini mungkin sudah dianggap biasa dan menjadi sebuah kebiasaan umum. Pola komunikasi, simbol-simbol komunikasi, dan penyebarannya pun kini semakin lebih mutakhir dan semakin canggih. Dan semestinya ini menjadi sebuah kekuatan untuk lebih meningkatkan identitas dan peran sebuah organisasi maupun peran seorang single fighter.   [af, dbs]

Tinggalkan komentar

Intensifikasi Partnership

Partnership selain menyentuh tingkat atas hingga tingkat bawah, istilah partnership, seringkali merujuk pada istilah kamus. Dan pada umumnya, partnership ini sudah dikenal luas sebagai bahasa yang mempribumi, meskipun istilah ini berasal dari istilah asing. Lebih jauh partnership seringkali banyak diwacanakan dan dinyatakan sebagai rekanan bisnis, baik itu bisnis berskala nasional maupun bersifat internasional. Namun ujung-ujungnya istilah ini sering diperkuat kembali untuk sekadar lebih menjelaskan visi dan misi sebuah perusahaan maupun sebuah institusi profit maunpun nonprofit, bahkan tak jarang istilah ini sering dijadikan sebagai bahan diskusi untuk sekadar mengisi waktu-waktu luang semata dan memperluas bahan referensi dan wawasan terkini.

Untuk melanggengkan dan melebarkan sayap sebuah perusahaan, berpartnership menjadi sebuah keharusan yang mau tidak mau harus dijalani dan diagendakan secara wajar. Sebagai sebuah peran dan fungsi leadership, berpartnership tidak hanya berusaha menjelaskan internalisasi sebuah perusahaan atau institusi dirinya, namun juga berusaha memahami dan menselaraskan ‘dua dunia’ yang memiliki keunikannya tersendiri. Agar ‘dua dunia’ ini berjalan secara harmonis, maka peta dan gambaran yang dimiliki oleh masing-masing perusahaan, institusi, hingga individu sebagai bagian dari organisasi tersebut sudah harus ditampilkan secara apa adanya,  bersifat dinamis fleksibel tak kaku, untuk menerima perubahan secara wajar, baik itu perubahan yang datang dari dinamika internal maupun dinamika eksternal.

Fungsi leadership selanjutnya bukan hanya saja menguasai fungsi managerial yang sudah banyak difahami umum sebagai sebuah kesatuan antara planning, organizing, actualizing, hingga controlling, namun seorang leadership, selain seperti seorang penjelajah di hutan rimba, seorang leadership  pun kemudian diibaratkan  sebagai seorang nakoda yang sedang mengendalikan perahu besar di sebuah lautan lepas. Seorang leaderhip, tentu saja harus memahami benar kemana peta akan berubah dan bagaimana sebuah iklim dan dampaknya mempengaruhi sebuah konfigurasi system beserta komponen-komponennya. Leadership dan partnership, memang sebuah pekerjaan yang banyak dikenal umum. Seperti sebuah jarum jam, mereka berkemungkinan besar akan terus beralih dan terus mampir pada siapapun tak terkecuali pada saat-saat relaksasi sekalipun. Sebab mereka seperti bagian dari kehidupan yang telah, sedang dan akan dijalani oleh siapapun. Kullu nafsin ro’yun. Setiap diri adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Bahkan dulu, sejak masa kenabian, ada riwayat, seorang pimpinan terbesar suatu wilayah melihat seseorang penduduk biasa berjalan melewati dirinya. Pemimpin besar itu bertanya siapa Anda, lalu seorang biasa itu menjawab tenang, ‘aku adalah raja bagi diriku sendiri’. Pemimpin besar itupun merasa kaget, lalu berusaha mencoba memahami kata-kata yang terlontar dari seorang penduduk biasa itu. [af, dbs]

Tinggalkan komentar