Arsip untuk November, 2013

Namaisme

Mungkin tak bisa dibayangkan, seandainya nama, bukan menjadi sesuatu hal yang serius. Nama bagi kalangan tertentu, selain sebuah pengagungan, namun nama merupakan sebuah do’a dan sebuah harapan. Untuk memberikan sebuah nama, orang tua dulu tak tanggung-tanggung mesti harus membuka sejumlah sumber dan referensi, dengan harapan anaknya kelak menjadi orang yang benar-benar didambakan, benar-benar menjadi orang yang berguna baik bagi dirinya, keluarganya maupun bagi bangsa dan negaranya. Bahkan dalam tradisi masyarakat Jawa Barat,  khususnya sunda, yang dinilai sebagai suku kedua terbesar dalam masyarakat Indonesia, selain penyertaan do’a, orang tua dulu sering mengadakan sebuah hajatan bubur beureum bubur bodas sebagai sebuah simbol penghargaan terhadap sebuah nama.

Nama, tentu saja kemudian menjadi sebuah alamat dan identitas diri. Untuk memanggil seseorang,  dalam tradisi arab, ada beberapa istilah panggilan bahasa yang digunakan untuk menandakan seseorang berada pada jarak yang dekat, agak dekat, dan jauh. Yaa misalkan, kalau tidak salah untuk memanggil seseorang yang berada pada jarak yang jauh. Dalam tradisi pada umumnya, selain ada kata pengantar seperti Yaa tersebut, kebanyakan sudah menjadi bahasa umum dan lumrah diselang kemudian dengan sebuah nama. Misalkan, Hai Udin, wahai maryam, atau cukup dengan memanggil Hey!!. Bagi kaum sufistik dulu, mereka yang serius mendalami religiusitas sembari menghubungkannya dengan filosofi bahasa, terkadang memunculkan bahasa yang agak ‘nyeleneh’ dimana orang sering menyebutnya sebagai sebuah keakraban dalam pemakaian bahasa dengan objek yang dimaksud. Seperti apresiasi bahasa sufistik Rubi’ah untuk mengungkapkan betapa kecintaan dan kehadiran Tuhan hadir pada dirinya, Rubi’ah suatu waktu sering berujar misalkan, “padaNya lalu aku bilang, hai aku…! “.

Berapresasi bahasa atau kegiatan memperkaya bahasa bagi kalangan tertentu merupakan sebuah aktivitas yang sangat penting.  Betapa tidak, setiap hari siapapun akan berhadapan dengan sebuah realitas atau kenyataan, dimana bahasa merupakan alat komunikasi yang ampuh untuk mendeskripsikan atau menjelaskan sebuah keadaan.  Dengan bahasa persahabatan makin meluas, dengan bahasa apapun yang dimaksud akan segera relatif mudah terwujud. Pakar komunikasi Bang J. Rahmat,  dalam Psikologi Komunikasi, menekankan, berbahasa berarti siapapun sedang mempengaruhi, memberikan informasi, atau menghibur siapapun yang layak untuk diapresiasi. Jadi, berbahasa, selain sesuatu yang perlu dan bersifat dinamis, tentu saja berbahasa sangat berkaitan erat dengan sebuah nama. Sebab nama itu sendiri adalah sebuah bahasa dan sebuah pembahasan yang tak pernah selesai-selesai. Namun satu hal yang pasti, sebuah nama dan sebuah bahasa, yang berjumlah sekira miliaran dan ribuan banyaknya itu, sebanyak jumlah penduduk dunia saat ini, nama dan bahasa merupakan sesuatu yang sangat imajinatif logistik dan bersifat pragmatis dinamis.  [AF]

Tinggalkan komentar