Arsip untuk Maret, 2014

MENERIMA KETIKAN

– Turut serta mengikuti aktivitas prakerja.
– Inventarisasi sumber referensi informasi terkini.
– Menerima panggilan kerja.
– Berusaha proaktif dan bersinergis.
– Melakukan pemetaan dan investasi.
– Reportase sebagai aktivitas berkelanjutan.

Tinggalkan komentar

Belajar Memang Lintas Waktu

Ruang kelas, dari sisi pinggir tengah menuju timur depan, yang terlihat hanyalah sorotan cahaya redup yang datang dari samping barat terbias oleh cermin dan kaca-kaca jendela. Tak ada sunyi, sebab obrolan usai transfer adaptasi ilmu pengetahuan pagi itu cukup hangat dan menghangatkan. Sejak melangkah dari pekarangan rumah, sepanjang jalan, hingga sampai ke tempat sekolah, selalu saja ada bahan untuk diperbincangkan, dipertanyakan, atau dipernyatakan. Dengan berseragam merah putih bertopi dan berdasi, usai upacara bendera, selalu saja seluruh siswa berhamburan bebas menuju ruang kelas itu. Atau mereka mesti berkunjung ke ruang kelas lainnya sebab sejarah atau aktivitas meningkatkan daya ingat adalah sebuah bentuk penghargaan untuk memulai dan kembali lagi ke ruang kelas terakhir. Tentu saja mereka tidak lama-lama di ruang kelas itu, hampir tak serupa dengan kisah al-kahfi yang beberapa tahun kemudian dikenal sebagai sebuah kisah religious yang cukup mengagetkan nilai sejarah. Mereka tidak bisa dijangkau oleh akal sederhana semata, namun juga mesti diiringi dengan keyakinan dan kepercayaan yang tulus, yang hanya hadir manakala kesadaran mempergunakan akal sehat sejalan dan seirama dengan kesadaran memahami berbagai bentuk dan warna-warni yang melingkupi alam sekitarnya.

Empat tahun lamanya diam-diam waktu bergerak merayap. Ruang kesadaran mulai terbuka lebar, kekayaan visualisasi semakin terekam luas, sebab sorot kedua mata selalu tak sengaja dipertemukan dengan berbagai definisi, bentuk, warna, huruf, angka, iklim, hingga bentuk anatomi dengan berbagai rupa hingga nada suara yang nyaris memiliki jumlah dan bentuk yang nyaris serupa namun substansi isinya memiliki kekayaan yang luar biasa. Bertemu Video games seperti bangku sekolah, memang awalnya mengagetkan sebab sorot mata biasanya selalu tertuju pada televisi hitam putih atau film layar tancap yang hanya dipertontonkan pada saat hajatan atau waktu-waktu luang saja. Mereka tidak bisa ‘diapa-apakan’ namun hanya bisa dilihat dan didengar saja dimana itu sungguh berbeda dengan teknologi kini video games. Bertemu dengan lautan atau kolam renang, bukan main lebih mengagetkan lagi. Sebab biasanya sorot kedua mata dan anatomi tubuh selalu tertuju dan bersentuhan pada balong-balong ikan persawahan yang suatu waktu dapat dilihat dan ‘dijelajahi’. Akan tetapi bertemu dengan layangan, sepertinya sudah tak aneh lagi. Hanya mungkin bentuk, warna-warni dan ukurannya saja yang agak sedikit mengagetkan. Selain karena layangan adalah mainan lintas usia, layangan sepertinya juga seolah-olah melapangkan sebuah imajinasi, memilih bentuk komunikasi ‘on-air’, learning to looking up, stand up on its place, atau ‘running go back’, bukan hanya sekadar membentuk konfigurasi suara layangan, namun mereka sepertinya berusaha untuk mencoba menampilkan kegagahan, kecepatan, dan kelincahan sebuah layangan. Kemenangan dan kekalahan layangan yang dipertandingkan, biasanya bukan hanya perkenan keberuntungan, namun kualitas benang, kecepatan, dan besar kecilnya angin yang berhembus yang turut menentukan sebuah permainan.

Kekuatan berjalan, melihat, membaca, berpikir melingkar, atau menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan, pada waktu-waktu tertentu biasanya aktivitas yang sudah sadar tak sadar menjadi bagian dari aktivitas siapapun sejak mulai abad prasejarah hingga abad modernisasi informatika terkini dimana perkembangan serta penghargaan terhadap ilmu pengetahuan semakin meningkat pesat. Sebuah catatan lagi bahwa setiap abad atau zaman memiliki definisi dan realitas tersendiri dimana mereka cenderung seiring dengan perkembangan pola pikir, transfer dan adaptasi ilmu pengetahuan, hingga kreativitas, reproduksi, dan reformasi yang terus menerus cenderung tetap atau tidak tetap. [af]

 

Tinggalkan komentar

Neo Metamorfosa

 

Berbagai bentuk binatang, entah darimana datangnya, tiba-tiba saling bermunculan berlarian entah menuju kemana. Burung-burung, bebas menukik tajam seakan ingin memburu mangsanya namun kemudian mereka sepertinya kaget melihat bayangannya sendiri. Gajah, dengan the big foot-nya seolah miris tercubit segerombolan semut, lalu lari terbirit-birit mengisi komposisi khas liar alam rimba pada town environment yang sengaja ditampakkan begitu kontras oleh sutradara. Konfigurasi visual, isi cerita, latar yang dibentuk dalam jumanji, memang tak jauh berbeda dengan zathura. Kemampuan menghadirkan the past of  image, bukan saja menguatkan isi sebuah cerita, namun tempo hingga alur sebuah cerita pun semakin membuat penikmat movies lover  pada akhirnya tak takut memasukkan kedua tangannya ke dalam saku baju mereka. Bahkan mereka membekali berbagai pilihan dan paradigm, bahwa lagi-lagi inspirasi tak hanya sekadar dapat ditemukan dalam kehidupan nyata. Image, yang kemudian sering dihubungkan dengan the dream of reality terkadang menjadi bahan pertimbangan dalam menciptakan gagasan-gagasan dan pengambilan sebuah keputusan. Namun lagi-lagi tak sesederhana itu, realitas tercipta bukan hanya karena perkenan the wise of God semata, akan tetapi juga cerdas membaca konfigurasi system beserta rangkaiannya yang cenderung bosan dengan iklim stagnasi namun cenderung ‘liar’ mencari dan menemukan keseluruhan jati dirinya seiring dengan keseluruhan experience of  life nya, education, dan anatomi biologis nya yang cenderung tunduk, patuh, dan senantiasa proaktif beradaptasi dengan hukum alam.

Jumanji, Zathura, The God Must Be Crazy, meskipun dianggap not update, akan tetapi mereka hampir bersamaan mencoba memfokuskan sebuah tema bahwa sebuah keajaiban, keluarbiasaan, kemisteriusan, bukan hanya karena ilmu pengetahuan telah mendahului dan berdiri pada tingkatan tertentu dimana dimensi kesadaran beserta anatomi biologisnya relative dan cenderung seperti tangga nada dan serupa dengan arah perputaran jam yang selalu kembali pada asalnya dengan nuansa yang terkadang berbeda, akan tetapi hal-hal yang dianggap aneh pun terkadang lahir karena akal, memori, system biologis cenderung menerima dan mengolah informasi yang dianggap wajar dan sudah umum. Manakala informasi terbaru belum terekam dalam memori, keseluruhan biologis perlahan-lahan mencoba menyaring, beradaptasi, dan diam-diam menyimpan informasi tersebut manakala informasi terbaru tersebut bermanfaat dan saling menguatkan dengan informasi yang telah ada dalam memori. Ada pepatah lama mengingatkan bahwa keahlian, kecerdasan, keluarbiasaan tercipta karena ilmu pengetahuan senantiasa berulang-ulang dilakukan dan menjadi sebuah kebiasaan. Ilmu pengetahuan akan hilang, manakala ilmu pengetahuan tersebut ditinggalkan lalu dilupakan. Dulu ada seorang pianis timur dengan struktur anatomi yang kurang sempurna namun karena kesungguhan, pola didik, lingkungan yang dibangun, dan motivasi yang terus-menerus dibangun oleh teman dan orang tuanya, tidak lama beberapa tahun kemudian kemampuannya bahkan hampir bisa disejajarkan dengan pianis senior seperti Stevie Wonder, Indra Lesmana, Idang Rasjidi, atau Jaya Suprana sekalipun. Beberapa penghargaan dalam berbagai bentuk, dalam strategi quantum learning, meskipun seringkali dianggap not update, langkah-langkah tersebut dianggap menjadi sebuah penghantar untuk keberhasilan-keberhasilan selanjutnya.

     Tentu saja cerminan mereka yang sudah dianggap berhasil dalam mengisi perjalanan sejarah bukan hanya semata terlahir di belantara seni saja. Hampir serupa dengan imajinasi yang ditawarkan dalam Doraemon Movie, dalam diri apapun, siapapun, dan kapanpun, memiliki keluarbiasaan tersembunyi yang hanya dapat muncul dan menonjol kemampuannya manakala lingkungan sekitar senantiasa mempertanyakan, menyatakan, dan senantiasa turut mempergunakan kemampuannya tersebut untuk hal-hal yang bermanfaat. Kantung ajaib Doraemon yang dapat mengeluarkan berbagai alat teknologi tercanggih wah, mungkin saja bisa dianalogikan pada apapun, siapapun dan kapanpun karena lagi-lagi perkenan The Wise of God, akal sehat transfer ilmu dan teknologi, atau selebihnya karena perkenan system beserta komponen-komponennya. Diluar itu mungkin saja bisa dianggap sebagai sebuah asumsi atau keluarbiasaan yang mesti dianalisis dan diuji hingga metamorfosa keadaannya. [af]   

Tinggalkan komentar

Momentum

Leonardo da Vinci, memang bukan olahragawan amatir ataupun pembelajar lulusan high school kemarin sore. Karya-karya lukisannya dari berbagai aliran, bukan hanya saja telah terdokumentasikan dalam bentuk pustaka, namun sudah menyebar hingga ke dalam bentuk media elektronika, dimana profesionalisme fotoghraper sebagai sebuah profesi, kini sudah menemukan bentuk kesederhanaan dan kesimpleannya yang luar biasa. Hal ini bisa dibuktikan dalam ‘neo liberalism’  sebuah metode pengambilan bentuk lukisan yang diinginkan konsumen, dengan berbagai model bentuk yang diinginkan, dilengkapi dengan kualitas pencahayaan, transfer data yang semakin canggih, serta kalkulasi ekonomis yang semakin brilian, tentu saja bukan hanya menguntungkan bagi pihak pertama semata, namun pihak kedua hingga mediator pun lebih melapangkan lebih luas untuk juga mendapatkan ‘jatah’ royalty yang cukup menggiurkan sesuai dengan kualitas kerja yang membackupnya. Dunia property, travelling, healthy lifing, networking hingga modelling semakin dimanjakan dengan berbagai tampilan kualitas gambar yang ditawarkannya, hingga konsumen semakin mudah membaca konfigurasi dan diversifikasi pelayanan yang ditawarkan oleh sebuah corporation. Tentu saja ini pun dinilai kemudian sebagai sebuah opportunity bagi pelaku bisnis lainnya yang turut peduli dalam mengambil peran untuk meningkatkan kesejahteraan secara menyeluruh. Dunia seni, the world of art, dalam memanjakan kebutuhan konsumen tentu saja telah berhasil memerankan dirinya untuk kemudian membuka ruang kolaborasi dan sinergis dengan disiplin ilmu lainnya dalam turut memelihara, mereformasi, dan meneruskan nilai-nilai tradisi dan peradaban yang sudah lama dibangun secara konsisten.

Tatanan dunia baru, tentu saja selanjutnya bukan hanya semata diramaikan oleh hingar-bingarnya  cinema yang turut andil mendokumentasikan the last of reality hingga update to now, akan tetapi tatanan dunia baru selalu memiliki goodwill yang relative kondusife untuk selalu dihadirkan pada tataran dunia apapun. Meskipun jargon bahasa terakhir ini cenderung berhaluan filosophis hingga menyentuh dunia aristoteles yang cenderung kental dengan politic character, akan tetapi bahasa apapun, mereka akan selalu bermuara pada nilai sebuah universalitas, keadilan, kebenaran, dan bersifat objektif dalam menjaga tatanan kehidupan yang heterogen kaya dengan paradigm cara pandang terhadap realitas itu sendiri hingga mereproduksi realitas tersebut menjadi sebuah trend yang dianggap mumpuni dan memiliki nilai-nilai sosial internal eksternal tersendiri yang dapat dipertanggungjawabkan. Kehadiran para petualang scientic hingga mereka yang konsen terhadap nilai-nilai kemajuan sebuah tradisi dan peradaban pun selalu memiliki warna tersendiri dalam turut membuka wawasan dan cakrawala berpikir dalam memperlakukan keberadaan sebuah zaman. Kemajuan dan kemunduran sebuah zaman sangat bergantung pada kesungguhan upaya, luwes dalam menjalankan sebuah nilai, dan terus-menerus bangkit manakala indeks prestasi tidak sesuai dengan sebagaimana mestinya.

Memahami rentetan historis pun adalah sebuah keniscayaan dalam rangka menata kembali langkah-langkah kemajuan. Kebebasan,  bersikap bijak,  diiringi dengan kekokohan dan tanggungjawab sosial tinggi, kreativitas,  serta kedisiplinan, adalah selalu menjadi tolok ukur dalam upaya menata ulang dan meneruskan kembali sebuah universalitas momentum aktivitas, meskipun strategi untuk melakoninya sangat begitu beragam, fleksibel, namun yakin akan selalu berhasil. [af]

Tinggalkan komentar

Antara Adam, Bahasa, dan Amanah

 

Adam, menurut perhitungan historis, karena kemampuan berbahasa, kedudukannya diangkat Yang Maha Kuasa melebihi makhluk lainnya seperti malaikat, golongan syetan, hingga makhluk hidup lainnya yang bernyawa dan tidak bernyawa. Akan tetapi dalam waktu yang tidak lama, Nabi Adam pun mesti rela turun dari suwarga, karena kelemahannya sebagai manusia, hanya karena Adam dan Hawa melanggar larangan Yang Maha Kuasa untuk tidak mendekati buah khuldi sebagai symbol keabadian. Atas bujuk rayu syetan, sejarah menceritakan bahwa Nabi Adam pun akhirnya tergiur dan memakan buah tersebut, hingga tangis penyesalan pun mengiringinya hingga hari demi hari. Namun atas kasih sayang Tuhan, penyesalan dan taubat Adam pun diterimaNya dengan catatan Adam dan pasangannya Hawa mesti turun dari suwarga dan mengisi kehidupan di bumi dengan kerja keras. Ini sungguh ironis seandainya dibandingkan dengan kehidupan suwarga yang serba tersedia. Konon hanya dengan berdoa saja apapun keinginan akan segera saja terkabul. Tidak perlu kerja keras, banting tulang, atau sedikitpun keringat yang mengucur dari sekujur badan. Suwarga adalah gambaran dimana tidak ada apapun yang tidak bermanfaat. Semua bermanfaat dan tidak mengenal perjalanan waktu maupun batas.

Akan tetapi dunia, alam bumi yang disediakan Tuhan, menghendaki Adam beserta keturunannya untuk memanfaatkan dunia sebaik-baiknya yang kemudian dikenal sebagai amanah titipan, dimana gunung-gunung,  binatang-binatang, hingga pepohonan pun diam membisu tak sanggup menerima amanah tersebut selain hanya kesanggupan mahluk bernama manusia. Setan pun dengan kesombongannya mengakui keberadaan manusia yang hanya terbuat dari tanah dan segumpal darah. Hanya karena api merasa lebih unggul dari tanah, perintah Tuhan agar syetan bersujud pada Adam meski terbuat dari tanah, syetan menolaknya lalu berakhir dengan sebuah janji penggodaan terhadap kehidupan Adam. Sejarah kemudian mencatat bahwa syetan dan manusia merupakan makhluk yang saling berlawanan. Berbeda dengan malaikat yang tercipta dari cahaya, keberadaan malaikat hanyalah sebagai penerima perintah yang super taat. Tidak ada tolakan, bantahan, bahkan keangkuhan.

Waktu pun terus bergulir. Peradaban, kebudayaan, dan tradisi yang terlahir kembali karena kesadaran amanah dan komitmen terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kesadaran akan kekuasaan Yang Maha Kuasa pun semakin meningkat. Cara dan menghadapi kehidupan pun semakin lebih terbaca dan semakin beragam meskipun beban menghadapi kenyataan hidup pun tidaklah begitu ringan. Setiap generasi pun terlahir dengan tingkat permasalahannya masing-masing. Mereka seolah-olah terus menerima kenyataan bahwa amanah adalah bahasa yang semakin memiliki bentuk dan kenyataan yang sangat teramat luas hampir berbanding lurus dengan kekayaan bahasa yang dikenal di dunia ini. [af, dbs]

Tinggalkan komentar